Pages

Jumat, 11 Juni 2021

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten

 

Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ.

 Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14). Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih. Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja.

Meski demikian ada kriteria tertentu di mana seseorang melakukan suatu amalan dengan motivasi tertentu namun masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58). 

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun. ADVERTISEMENT Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. 

Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.” Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya. Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas. Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak. Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan:

والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.” Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya. Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah. Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat. Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan: وما عدا ذلك رياء مذموم Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.” Wallâhu a’lam. Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/103298/tiga-tingkatan-ikhlas-menurut-syekh-nawawi-banten

 

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten Selasa 5 Maret 2019 17:30 WIB Bagikan: Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ. ADVERTISEMENT Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14). Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih. Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja. ADVERTISEMENT Meski demikian ada kriteria tertentu di mana seseorang melakukan suatu amalan dengan motivasi tertentu namun masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58). Dalam kitab tersebut beliau memaparkan bahwa tingkatan pertama yang merupakan tingkat paling tinggi di dalam ikhlas sebagai berikut: فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك ADVERTISEMENT Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun. ADVERTISEMENT Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. Adapun tingkatan ikhlas yang kedua Syekh Nawawi menuturkan lebih lanjut: والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.” Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya. Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas. Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak. Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan: والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.” Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya. Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah. Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat. Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan: وما عدا ذلك رياء مذموم Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.” Wallâhu a’lam. Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/103298/tiga-tingkatan-ikhlas-menurut-syekh-nawawi-banten
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten Selasa 5 Maret 2019 17:30 WIB Bagikan: Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ. ADVERTISEMENT Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14). Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih. Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja. ADVERTISEMENT Meski demikian ada kriteria tertentu di mana seseorang melakukan suatu amalan dengan motivasi tertentu namun masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58). Dalam kitab tersebut beliau memaparkan bahwa tingkatan pertama yang merupakan tingkat paling tinggi di dalam ikhlas sebagai berikut: فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك ADVERTISEMENT Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.” Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun. ADVERTISEMENT Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. Adapun tingkatan ikhlas yang kedua Syekh Nawawi menuturkan lebih lanjut: والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.” Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya. Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas. Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak. Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan: والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.” Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya. Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah. Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat. Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan: وما عدا ذلك رياء مذموم Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.” Wallâhu a’lam. Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/103298/tiga-tingkatan-ikhlas-menurut-syekh-nawawi-banten
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.

Selasa, 20 April 2021

NEW SITES

LOKAL BUSSINESS

Senin, 19 April 2021

MENGAJI KITAB WASHIYYATUL MUSHTHOFA KE 9

 


Minggu, 18 April 2021

NGAJI KITAB HARI KE 7

Sabtu, 17 April 2021

LIVE STREAMING TADARRUS MALAM KE 6

Jumat, 16 April 2021

TADARRUS MUSLIMAT

SAMBUTAN KEPALA DESA KROYA

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

salam sejahtera bagi kita semua

Kepada masyarakat Desa Kroya sekalian yang saya muliakan. Pada kesempatan yang berbahagia ini, kiranya tiada kata – kata yang patut untuk kita ucapkan terlebih dahulu melainkan puji syukur yang sedalam – dalamnya, atas rahmat dan karunia Allah SWT sehingga pembuatan website Masjid Jami' Nurul Mubin dapat terlaksana dengan baik.

Kami sebagai Kepala Desa Kroya di sini tentu merasa berbahagia dan terima kasih atas dukungan dari semua pihak, utamanya dari Perangkat Desa Banjarsari yang telah berpartisipasi dalam pembuatan website ini dan semoga bermanfaat. Tentu saja sebagai Kepala Desa Kroya , kami mengajak kepada masyarakat Desa Kroya untuk ikut pula berpartisipasi menyumbangkan ide, kreasi dan informasinya agar dapatnya website ini menarik minat pembaca dan menunjang kami untuk memperkenalkan potensi – potensi yang ada di Desa Kroya kepada daerah lain.

Akhirnya, kepada semua pihak yang terlibat, kami sampaikan terima kasih yang sedalam – dalamnya, semoga kerjasama kita semua membuahkan hasil yang lebih baik.

Demikian, sambutan yang perlu saya sampaikan. Kami selaku Kepala Desa Kroya berterima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kelebihan dan kekurangan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kepala Desa Kroya

 

H. Wamin, S.Pd

SAMBUTAN PEMBINA

 Assalammu’alaikum Wr., Wb.

Dengan Mengucapkan Syukur kehadirat Allah SWT dan atas limpahan rahmat dan innayah-Nya kita  senantiasa dalam keadaan sehat serta terus menjalankan dan tugas kita selaku kholifah di muka bumi dengan tetap berpegang teguh pada Dienul Islam.
Pada kesempatan yang berbahagia ini kami selaku Dewan Pembina Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada civitas
Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan yang terus memberikan kontribusi dan sumbangsih pemikiran dalam penyelenggaraan kegiatan dan kativitas masjid, kami berharap jajaran pengelola dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan maksimal kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan.

Di era globalisasi saat ini masyarakat membutuhkan bimbingan dalam agama, untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga yang memiliki kualitas dan kompetensi yang benar-benar handal, mandiri, berintegritas tinggi dan berakhlak mulia. Harapan kami semua hal tersebut harus dimiliki oleh pengembang Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan dan untuk mencapainya haruslah dengan kerja keras dan melibatkan seluruh jajaran pengelola, nasyarakat dan stakeholders.

Akhir kata saya berterima kasih atas partisipasi aktif dari seluruh jajaran pengelola yang telah berkerja keras dalam menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kepentingan dan kemajuan kita semua, terima kasih.

Wassalammu'alikum Wr., Wb

Salam Takzim
Ketua Dewan Pembina
Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan



H. Kamir

SAMBUTAN KETUA DKM

 Bismillahirrahmaanirrahiim,

Assalamu’alaikum  Warahmatullahi Wabarakatuh

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MASJID JAMI' NURUL MUBIN KROYA,

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, semoga kita senantiasa diberikan kekuatan, perlindungan, dirahmati dan di ridhoi dalam melaksanakan tugas kita masing-masing. Shalawat dan Salam kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya, semoga kita senantiasa mendapat safaat darinya, Amin.

Melalui Website ini, kami atas nama jajaran Dewan Kemakmuran Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya-Panguragan-Cirebon, ingin menyampaikan informasi seputar Masjid yang InsyaAllah pusat informasi secara terbuka dan dapat di akses dengan mudah serta manjdi mafaat bagi desa sekitar.

Masjid Jami' Nurul Mubin ini termasuk dalam tipologi “Masjid Jami'” yang berlokasi di Desa Kroya KecamatanPanguragan, Kabupaten Cirebon, ProvinsiJawa Barat.

Visi kami adalah: “Manjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan keimanan, keilmuan, dan kesalehaan menuju terwujudnya kemakmuran Masjid dengan penuh kedamaian. Misi kami adalah: “Melaksanakan kegiatan Masjid terintegrasi melalui penyelenggaraan kegiatan  Idarah (Manajemen), Imarah (Kemakmuran), dan Ri’ayah (Pemeliharaan dan Pemberdayaan), meliputi:

(1) Menerapkan Tata Kelola Masjid Yang Baik (Good Mosque Governance – GMG) diseluruh jajaran Organisasi Masjid,

(2) Melaksanakan kegiatan Kemakmuran Masjid berbasis program terstruktur,

(3) Melaksanakan kegiatan Pemeliharaan dan Pemberdayaan Sarana dan Prasarana Masjid untuk mendukung  kegiatan kemakmuran masjid agar berjalan secara efektif”.

Sedangkan Moto kami adalah: “Bersatu dalam jama’ah yang inklusif berbasis program terstruktur yang dilaksanakan melalui pelayanan profesional”.

Kami sadar bahwa amanah yang kami emban untuk mewujudkan Visi dan Misi Masjid tidaklah mudah. Namun kami juga sadar bahwa berkat petunjuk, dan bimbingan, serta ridho dari Allah SWT, InsyaAllah akan terwujud.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Ust. HASAN BISRI ANWAR

Ketua DKM Masjid Jami' Nurul Mubin Kroya Panguragan Cirebon

TADARRUS AL-QUR'AN MUSLIMAT MASJID JAMI' NURUL MUBIN


 

STRUKTUR KEPENGURUSAN MASJID JAMI' NURUL MUBIN MASA BHAKTI 2020 - 2025


 

MENGAJI KITAB WASHIYATUL MUSHTHOFA







 

Kamis, 15 April 2021

IPPMAS NURUL MUBIN

IPPMAS DAN PENGAWAL SHOLAT TARAWEH